Monday, January 19, 2015

Pengalaman menggunakan BPJS

Jadi ceritanya saya mendaftar BPJS itu setelah tahu kalau istri saya hamil dan biaya melahirkan itu mahal. Memang niatnya seperti itu, karena tidak ada lagi asuransi yang mau mengcover untuk biaya melahirkan kalau daftar nya setelah tahu hamil. Dan hanya bpjs yang bisa seperti itu, baru daftar 1 minggu sudah bisa di pakai untuk berobat, Hebat gak? Keren sih, tapi menganehkan.

Udah pada tahu kan BPJS KESEHATAN, kalau belum, bisa buka situs nya di http://bpjs-kesehatan.go.id. Adalah program pemerintah Indonesia untuk menanggulangi ketidakmampuan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, dengan biaya perbulan paling mahal adalah Rp. 59.500,-. Sistem bikin percaya ke konsumen nya sih keren, yaitu gotong royong, jd kalau yang gak sakit - sakit, hitung - hitung beramal saja. Jadi, tidak ada pengembalian dana jika tidak terpakai.  Dan yang paling keren adalah "berapa pun biaya yang di keluarkan untuk perawatan kesehatan, akan di ganti oleh bpjs!", keren kan? Asuransi yang mahal dan internasional saja ada batas nya dalam hal biaya perawatan!, atau biasa di sebut claim.

Nah saya dan istri daftar bpjs setelah istri hamil 3 bulan. Kemudian kita cari tahu bagaimana dan apa yang di perlukan agar bpjs bisa meng-claim semua biaya perawatan. Ternyata cara claim nya itu harus ke puskesmas dulu, dari sana akan mendapatkan surat rujukan ke rumah sakit yang di tunjuk oleh puskesmas tersebut, jika sakit kita perlu di teruskan ke rumah sakit itu juga, tapi kalau puskesmas bisa menangani ya jangan harap untuk ke rumah sakit. Tapi puskesmas nya gak bisa sembarang puskesmas, harus puskesmas yang di pilih saat kita mendaftar. Kebayang gak kalau sakit nya sekarat harus ke puskesmas dulu terus baru ke rumah sakit? Bisa die di jalan itu namanya. Tapi kata nya sih kalau sekarat mah bisa langsung ke rumah sakit, dan bisa langsung claim bpjs, katanya itu juga.

Dan kita pun akhirnya ke puskesmas untuk bisa mendapatkan rujukan, tapi itu dia, tidak semudah itu mendapatkan rujukan, kalau puskesmas bisa menangani ya berarti di puskesmas saja!. saya pun bilang kalau istri saya hamil kembar, dan dalam hati bilang udahlah gak bisa di puskesmas mah kasih aja rujukan (sombong). Di puskesmas istri saya di periksa, dan mendapatkan obat yang tidak lazim untuk ibu hamil, yakni amoxcilin, dan tentu saja membuat istri saya tidak mau lagi cek kandungan di puskesmas. Yang di sesalkan sih dari cek kandungan tersebut  belum mendapatkan rujukan untuk berobat ke rumah sakit. 

Akhirnya saya coba langsung ke rumah sakit yang di mana rumah sakit tersebut biasanya di pakai rujukan untuk puskesmas yang saya pilih. Di rumah sakit saya mendapatkan banyak orang yang mengantri yang menggunakan bpjs, wow!. Dan tentu nomor antrian nya berbeda dengan yang umum atau yang menggunakan asuransi lain, pastinya lebih di dahulukan yang umum, aneh kan? Aneh gak?, padahal baru poliklinik aja itu bukan rawat inap, gimana kalau rawat inap, ngantri juga gitu? Keburu die atuh!. Dan yang pastinya lagi, obat pasien yang menggunakan bpjs itu berbeda dengan yang menggunakan umum, ambil obat nya saja di beda tempat, aneh ya? Aneh gak?. Tapi kebanyakan orang percaya jika bpjs akan mengcover semua biaya berobat, meskipun di bedakan. Menyedihkan.

Hari kelahiran si kembar pun tiba, saya masuk ke rumah sakit menggunakan jalur umum dulu, meskipun sebelumnya bilang saya akan menggunakan bpjs. Saat masuk ruangan itu masih di tanya oleh suster nya, bapak umum ya?, terus kenapa kalau umum? Kenapa juga kalau pakai bpjs?. Dan sepertinya saya mendapatkan perlakuan berbeda ketimbang pasien yang menggunakan bpjs. Dan Alhamdulillah si kembar lahir dengan selamat melalui operasi cesar, begitu juga dengan istri saya. Dan saat akan pulang saya baru bilang ke pihak admin rumah sakit akan menggunakan bpjs, dan apa saja yang harus saya urus? Ternyata saya hanya perlu mengurus di kantor bpjs yang ada di rumah sakit itu saja, "alhamdulillah" kata saya, berarti gak harus mengurus surat rujukan dari puskesmas. Tapi ternyata, setelah itu saya langsung di suruh ke kasir dan mendapatkan biaya yang harus di bayar adalah sebesar 1 buah motor bebek baru, wow!, setelah di potong oleh penggunaan bpjs sebesar Rp. 2.000.000,-, hanya segitu? Ya hanya segitu! Wow! Wow!  Terus apa bedanya dengan yang menggunakan bpjs dari awal sebelum operasi? Apa ada beda dari obat atau alat kesehatan operasi nya? Katanya akan di bayar semua oleh bpjs? hmmmm aneh kan? Aneh gak? Dan impian saya untuk di bayar semua oleh bpjs pun pudar.

Dan di sisi lain saat melihat berita, bpjs mengumumkan keuntungan meningkat 30%. Maksudnya apa? Kenapa jadi keuntungan yang di pikirkan? Aneh..  

6 comments:

  1. nahhh ini baru lucuuuuuu :D istri saya pernah melahirkan di Rumah Sakit Tentara .. dan ketika tahu bahwa kami dari masyarakat umum .. malah dapat pelayanan yang lbh baik dan cepat ,,,, bhuahahahaha ... bahkan saat itu seorang perwira harus kalah dengan saya ketika berebut kamar :D

    ReplyDelete
  2. saya melahirkan operasi sesar hari Rabu 11 Maret 2015,, Alhamdulillah Pake BPJS ngga di kenakan biaya keculai biaya pempers 120.000,, trus pelayanannya memuaskan di RSUD Tanjung Lombok Utara.

    ReplyDelete
  3. Salam,
    Mba Nur Afrianti Setyorini, bisa dishare bagaimaan prosedurnya?
    Perlu buat amunisi ke RS, nih. Ada kemungkinan Cesar...:-(

    ReplyDelete
  4. Mas Ahmad...emang ga ditanyain pada saat daftar di rs, pake jalur umum, asuransi or bpjs??
    Biasanya ditanya didepan kan y??

    ReplyDelete
  5. Saya juga waktu melahirkan di rs tentara Balikpapan menggunakanbpjs dan sumpah pasien yg menggunakan bpjs itu kayak dikesampingkan banget pelayanan yang sangat tidak nyaman dan tidak ramah

    ReplyDelete
  6. Kalo pake asuransi swasta lainnya seperti disini http://www.siretu.com/daftar-asuransi-kesehatan-terbaik-di-indonesia/ apakah lebih baik ya?

    Btw makasih sharing pengalamannya :)

    ReplyDelete